Jumat, 22 April 2016

Jeritan anak gembala

Pantaiku Pantaimu Pantai kita kawan

Angin lembut membelai sukmaku
daun daun menari dan bernyanyi dalam lantunan alam-Mu
debur ombak sayup-sayup merengkuh tajali batinku
seakan ia mengajakku bermadu ke masa lalu

Jari jemari dua tanganku
telah habis untuk menghitung waktu
 berapa lama kutinggalkanmu
Meski jauh dalam mataku namun sungguh dekat engkau dalam batinku
masih tersimpan rapih lembaran masa lalumu
Sabana dan stana tempat gembalaanku kala itu
Pasir hitam menjadi saksi bisu tapak kakiku

Pandan-pandan yang rimbun tak pernah mengeluh
tempatku berlindung dari sengatan sang surya disiang bolong
Warna warni widuri,obarabir,kondoran,krandan dan gulong melukis setiap lekuk pasir
Gulungan ombak laut selatan memanjakan mata memandang
Fatamorgana meliuk liuk diujung sana menggambarkan betapa besar kuasa-Nya

Namun tahukah engkau kawan.....???
kini smua itu tinggal sebatang angan
Pandan-pandan tlah kehingan akarnya
Lekukan lembah dan bukit pasir kini menjadi lautan plastik
Jingking,kuwuk,cabak dan kepiting menjerit hancur sudah rumahnya
Warna warni kembang kini tinggal hitam yang bisa dipandang

Kawan 
Kini dia menangis, menggigil dikala malam
terbakar surya dikala siang
Tubuhnya disuntik ribuan racun racun kima
Keringat dan darahnya dihisap demi perut mereka.

Kawan...
sampai kapan dia diperkosa 
sampai kapan dia menahan derita
Tiadakah cara lain ntuk membelainya
Rangkulah dia dengan hati dan sayangmu
Janganlah engku hanya nurut pada mulut dan perut


Yogyakarta, 22 April 2016

Lusino











Tidak ada komentar:

Posting Komentar